bassnations

Panduan praktis layanan publik, dokumen, otomotif, dan tips Android

Makna Lagu Di Na Muli Itchyworms: Arti Lirik dan Cerita di Baliknya

Makna Lagu Di Na Muli Itchyworms: Arti Lirik dan Cerita di Baliknya

Ringkas dulu: "Di Na Muli" adalah lagu tentang kehilangan dan waktu yang tak akan kembali. Ditulis Jazz Nicolas dan Wally Acolola, lagu ini juara PhilPop 2016 dan terinspirasi dari wafatnya orang tua Jazz. Pesannya sederhana tapi menohok: sampaikan cinta, maaf, dan terima kasih selagi masih sempat, karena momen itu "di na muli" - tak akan terulang lagi.

Kalau kamu mengetik "di na muli makna" di kolom pencarian, besar kemungkinan kamu baru saja mendengar lagu ini di media sosial, di sebuah acara perpisahan, atau di soundtrack film, lalu merasa ada yang menusuk di dadamu meski mungkin bahasa Tagalog bukan bahasa sehari-harimu. Itu wajar. Lagu ini memang dirancang untuk bekerja di level yang lebih dalam daripada sekadar lirik. Mari kita bedah pelan-pelan: apa arti judulnya, siapa yang menulis, dari mana lagu ini lahir, dan kenapa ia terasa begitu universal padahal kisah di baliknya sangat personal.

Arti Judul "Di Na Muli"

Judulnya dalam bahasa Filipino (Tagalog). Kalau dipecah: "di" berasal dari "hindi" yang berarti "tidak", "na" menandai sesuatu yang sudah terjadi atau sudah final, dan "muli" berarti "lagi" atau "sekali lagi". Digabung, "di na muli" paling dekat diterjemahkan sebagai "tidak akan lagi" atau "tak akan terulang".

Frasa ini punya nuansa yang sulit ditangkap dalam satu kata Indonesia. Ia bukan sekadar "tidak", melainkan "tidak untuk kedua kalinya". Ada rasa pintu yang sudah tertutup di dalamnya - sebuah kesempatan yang pernah ada, sempat dilewatkan, dan kini tak bisa diambil kembali. Itulah inti emosional seluruh lagu. Begitu kamu paham satu frasa ini, sebenarnya kamu sudah memegang kunci maknanya.

Di dalam lagu, frasa itu diulang sebagai kait utama. Bagian yang paling diingat orang kira-kira berbunyi:

'Di na muli, 'di na muli

Pengulangan itu bukan kebetulan. Ketika sesuatu dinyatakan dua kali dengan nada menurun, ia berhenti terdengar seperti informasi dan mulai terdengar seperti penyesalan yang diucapkan lirih pada diri sendiri. Kami hanya mengutip sebagian kecil teks lagu seperlunya untuk analisis, dan justru bagian pendek inilah yang memikul beban terberat: ia adalah vonis yang diterima pelan-pelan, bukan diteriakkan.

Siapa Penulis Lagunya dan Kapan Rilisnya

Ini bagian yang penting untuk diluruskan karena sering tertukar. "Di Na Muli" ditulis oleh Jazz Nicolas - drummer sekaligus salah satu vokalis The Itchyworms - bersama sahabat lamanya, Wally Acolola. Keduanya berteman sejak SMA. Menurut liputan Inquirer, mereka dulu begitu sibuk menulis lagu di kelas sampai-sampai nyaris tidak lulus pelajaran kimia. Jadi lagu ini sebenarnya buah dari persahabatan yang sudah berjalan puluhan tahun, bukan pesanan dadakan.

Lagu ini melejit setelah memenangi grand prize PhilPop 2016, ajang kompetisi penulisan lagu bergengsi di Filipina. Babak final digelar pada 23 Juli 2016 di Kia Theatre, dan "Di Na Muli" dibawakan oleh The Itchyworms dengan Jazz Nicolas sebagai interpreter utama. Soal rilis dalam bentuk album: lagu ini beredar sebagai entri PhilPop dan kemudian masuk ke dalam album digital kompilasi berisi 12 lagu finalis teratas PhilPop 2016, bukan sebagai bagian dari album studio khusus Itchyworms. Kalau kamu mencari "Di Na Muli" di satu album band tertentu, itu sebabnya kamu mungkin kesulitan - jalur awalnya memang lewat kompetisi, bukan lewat rilis album konvensional.

Penting ditegaskan: penulis lagunya dua orang, dan Jazz Nicolas-lah yang membawa pengalaman pribadinya ke dalam lirik. Jadi kalau ada yang menyebut lagu ini "lagu Itchyworms" secara umum, itu tidak salah, tapi kurang lengkap. Jantung emosionalnya berasal dari kisah hidup Jazz.

Cerita di Balik Lagunya: Kehilangan yang Jadi Sumber

Dalam wawancara dengan Bandwagon Asia, Jazz Nicolas menjelaskan "Di Na Muli" sebagai lagu tentang kehilangan dan berjalannya waktu. Salah satu inspirasinya, ia akui sendiri, adalah wafatnya kedua orang tuanya. Dari titik itulah lagu ini tumbuh: bukan dari konsep abstrak soal "waktu", melainkan dari pengalaman konkret berdiri di depan kehilangan dan menyadari ada hal-hal yang terlambat diucapkan.

Yang menarik, Jazz justru memilih untuk tidak menuliskan alasan pribadinya secara gamblang di dalam lirik. Ia sengaja membiarkan liriknya cukup terbuka sehingga pendengar bisa menaruh kisah mereka sendiri ke dalamnya. Menurut pengakuannya, itulah salah satu alasan lagu ini bisa menyentuh banyak orang dengan latar yang berbeda-beda. Keputusan menulis seperti ini - spesifik di sumbernya, tapi lapang di permukaannya - adalah teknik yang sama yang membuat lagu-lagu kehilangan lain terasa "milik semua orang". Kamu bisa melihat pola serupa saat kami membahas makna lagu Titik Nadir, di mana rasa personal penulis sengaja ditahan agar ruang pendengar tetap terbuka.

Inquirer dalam liputan kemenangannya menggambarkan lagu ini berkutat pada penyesalan dan waktu yang terbuang - bagaimana orang muda yang sibuk sering kehilangan kesempatan untuk melakukan atau mengatakan hal yang benar-benar penting. Dua sudut itu, kehilangan karena kematian dan kehilangan karena kesibukan, sebenarnya bertemu di satu titik yang sama: ketika kamu akhirnya sadar, kesempatannya sudah lewat.

Membedah Makna Lirik Lapis demi Lapis

Secara emosional, lagu ini bergerak dari penyesalan menuju ajakan. Mari kita urai temanya.

Pertama, kesadaran yang terlambat. Sepanjang lagu, suara penutur seperti orang yang sedang menoleh ke belakang. Ia menyadari betapa banyak momen yang dulu dianggap biasa ternyata tak akan datang lagi - percakapan yang ditunda, ucapan terima kasih yang tak sempat keluar, maaf yang tertahan karena gengsi atau karena merasa "masih ada waktu". Nada penyesalan ini bukan dramatis, melainkan tenang dan jujur, yang justru membuatnya lebih berat.

Kedua, penghargaan terhadap waktu. Jazz menyebut lagu ini soal "passing of time". Tema waktu di sini bukan waktu sebagai jam atau kalender, tapi waktu sebagai sesuatu yang kita kira melimpah padahal sebenarnya terbatas. Lagu ini seperti menampar pelan: kamu pikir masih banyak kesempatan, padahal setiap momen itu sekali pakai.

Ketiga, ajakan bertindak sekarang. Inilah bagian yang menurut saya paling kuat. Jazz secara eksplisit mengatakan ia ingin pendengar menyampaikan cinta, permintaan maaf, dan terima kasih kepada orang yang mereka sayangi - "selagi masih sempat". Jadi "Di Na Muli" sebetulnya bukan lagu yang menenggelamkan kita dalam kesedihan. Ia memakai kesedihan sebagai alat untuk mendorong kita melakukan sesuatu hari ini, bukan besok.

Di situlah letak kecerdikan liriknya. Frasa "di na muli" bisa dibaca dua arah. Sebagai penyesalan, ia berarti "hal itu tak akan terulang, dan aku melewatkannya." Tapi sebagai peringatan, ia berarti "karena tak akan terulang, jangan sampai kamu melewatkannya juga." Lagu yang sama bisa membuatmu menangisi masa lalu sekaligus menelepon ibumu malam itu. Tidak banyak lagu yang sanggup melakukan dua hal itu sekaligus.

Kenapa Lagu Ini Terasa Universal

Pertanyaan yang wajar: kenapa lagu berbahasa Filipino bisa menyentuh pendengar Indonesia yang bahkan tidak paham tiap katanya? Ada beberapa alasan yang masuk akal.

Pertama, temanya lintas budaya. Kehilangan orang tua, menyesali waktu yang terbuang, ingin minta maaf saat sudah terlambat - tak ada budaya yang kebal dari perasaan ini. Bahasa boleh beda, tapi rasa sesak di dada itu sama bentuknya.

Kedua, melodinya mendukung. The Itchyworms dikenal dengan pop yang bersih dan melodius, dan di lagu ini aransemennya dibuat menahan diri - tidak berlebihan, memberi ruang untuk liriknya bernapas. Progresi yang terasa familiar membuat telinga dari mana pun cepat masuk.

Ketiga, keterbukaan yang disengaja tadi. Karena Jazz tidak mengunci lirik pada kisah spesifiknya, pendengar dari Jakarta sampai Manila bisa mengisi kekosongan itu dengan wajah orang yang mereka rindukan. Ini strategi penulisan yang juga membuat lagu-lagu berbahasa asing lain bisa viral di Indonesia; kami pernah menyinggung dinamika serupa saat mengupas makna lagu Exile Taylor Swift, di mana emosi inti lebih dulu sampai ketimbang arti harfiah tiap barisnya.

Perjalanan Lagu Setelah PhilPop

Kemenangan di PhilPop 2016 hanya awal. Setelah itu, "Di Na Muli" hidup di berbagai ruang. Salah satu momen pentingnya adalah ketika versi cover oleh Janine Tenoso masuk ke dalam soundtrack film Sid & Aya (2018). Masuknya lagu ke sebuah film membuatnya menjangkau penonton yang mungkin tak pernah mengikuti ajang PhilPop sama sekali. Anne Curtis, yang membintangi film itu, juga sempat membawakan lagu ini di konsernya.

Dari sini kita bisa melihat pola umum bagaimana sebuah lagu bertahan: ia menang kompetisi, lalu di-cover penyanyi lain, lalu nempel di film atau acara, dan setiap langkah itu memperkenalkannya ke generasi pendengar baru. Buat lagu bertema kehilangan dan perpisahan, acara-acara seperti wisuda, perpisahan sekolah, dan video kenangan adalah "rumah kedua" yang sangat subur. Tidak heran kalau kamu pertama kali mendengarnya justru di konteks semacam itu, bukan di album resmi.

Tabel singkat untuk merapikan fakta-faktanya:

AspekKeterangan
Penulis laguJazz Nicolas & Wally Acolola
InterpreterThe Itchyworms (feat. Jazz Nicolas)
PrestasiGrand Prize PhilPop 2016
Final kompetisi23 Juli 2016, Kia Theatre
RilisEntri PhilPop 2016, masuk album digital kompilasi 12 finalis teratas
Tema intiKehilangan, waktu yang berlalu, penyesalan
Cover terkenalJanine Tenoso (soundtrack film Sid & Aya, 2018)

Kesalahan Umum dalam Memaknai Lagu Ini

Supaya pemahamanmu tidak keliru, ada beberapa jebakan yang sering muncul.

Mengira ini murni lagu patah hati romantis. Karena nadanya sendu, banyak yang buru-buru menempatkannya sebagai lagu putus cinta. Padahal sumber utamanya adalah kehilangan orang tua dan hubungan dengan orang-orang terdekat secara umum - keluarga, sahabat, siapa pun. Membatasinya ke urusan pacar justru mempersempit maknanya.

Menganggap lagu ini mengajak kita berlarut dalam sedih. Justru sebaliknya. Pesan eksplisit dari penulisnya adalah dorongan untuk bertindak: ucapkan yang perlu diucapkan sekarang. Sedihnya cuma kendaraan, bukan tujuan.

Menerjemahkan judul terlalu kaku. "Di na muli" kerap diterjemahkan jadi "tidak lagi" yang terdengar datar. Padahal nuansanya lebih dekat ke "tak akan terulang" - ada elemen waktu dan finalitas di dalamnya yang hilang kalau diterjemahkan asal-asalan.

Mengira lagunya ditulis dadakan untuk lomba. Mengingat latar belakang Jazz dan Wally yang sudah menulis lagu bareng sejak sekolah, lebih tepat melihat lagu ini sebagai puncak dari persahabatan dan kebiasaan menulis yang panjang, bukan karya kilat.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah "Di Na Muli" lagu sedih atau lagu penyemangat? Dua-duanya. Ia sedih di permukaan tapi menyemangati di dasarnya - mengajak kamu memperbaiki hubungan selagi sempat. Banyak lagu kehilangan bekerja dengan cara begini; kalau kamu suka tema semacam ini, pembahasan kami tentang makna lagu Closure Pamungkas menyentuh wilayah emosi yang bertetangga, yakni soal menutup sesuatu dengan damai.

Versi mana yang asli? Versi The Itchyworms dengan Jazz Nicolas adalah pembawaan aslinya di PhilPop 2016. Versi Janine Tenoso adalah cover yang populer lewat soundtrack film. Keduanya sah, hanya beda konteks.

Kenapa liriknya terasa "menggantung"? Itu disengaja. Jazz memilih tidak menjelaskan kisah pribadinya secara detail agar pendengar bisa mengisinya sendiri. Jadi kalau kamu merasa lagu ini "bicara tentangmu", memang begitulah ia dirancang.

Apakah ini lagu wisuda resmi suatu acara? Tidak ada sumber yang bisa kami pastikan mengaitkannya sebagai lagu perpisahan resmi suatu program tertentu. Popularitasnya di acara perpisahan lebih karena temanya yang pas, bukan karena penunjukan resmi.

Sumber & Cara Kami Cek

Fakta utama dalam artikel ini kami tarik dari beberapa sumber yang bisa dilacak. Kredit penulis lagu (Jazz Nicolas dan Wally Acolola), status kemenangan grand prize PhilPop 2016, dan tanggal final 23 Juli 2016 di Kia Theatre bersumber dari liputan Inquirer Entertainment dan PEP.ph, yang mencatat interpreter resminya adalah Itchyworms featuring Jazz Nicolas. Keterangan soal makna - bahwa lagu ini tentang kehilangan dan berjalannya waktu, bahwa salah satu inspirasinya adalah wafatnya orang tua Jazz, dan bahwa ia sengaja membuat lirik terbuka - berasal dari wawancara Jazz Nicolas dengan Bandwagon Asia. Keberadaan lagu dalam entri PhilPop dan album digital kompilasi finalis teratas kami rujuk dari pemberitaan kompilasi tersebut serta diskografi The Itchyworms di Wikipedia. Cover Janine Tenoso di soundtrack film Sid & Aya juga disebut dalam wawancara Bandwagon.

Yang perlu kamu tandai sebagai tafsir - bukan pernyataan langsung artis - adalah pembacaan lapis demi lapis di bagian analisis: urutan emosi dari penyesalan ke ajakan, pembacaan dua arah atas frasa "di na muli", dan penjelasan kenapa lagu ini terasa universal. Itu interpretasi kami berdasarkan tema yang disampaikan Jazz, bukan kalimat yang pernah ia ucapkan persis begitu. Kami juga tidak menemukan sumber yang bisa memastikan lagu ini dipakai sebagai lagu perpisahan resmi suatu program televisi, jadi klaim semacam itu sengaja tidak kami naikkan sebagai fakta.

Kalau ada satu hal yang perlu kamu bawa pulang dari lagu ini, biar itu bukan sekadar arti kata per kata, melainkan dorongannya: "di na muli" mengingatkan bahwa sebagian momen hanya datang sekali, dan satu-satunya jawaban yang masuk akal atas kesadaran itu bukan menangisi yang lewat, tapi menelepon, memeluk, atau mengucapkan apa yang selama ini kamu tunda - hari ini, selagi masih bisa.